Selasa, 17 September 2019

Boleh Mengeluh Lelah, Asal Jangan Pernah Menyerah


Hidup memang berat dan tak mudah dijalani. Selalu ada saja ujian, cobaan, rintangan, atau apa pun itu julukannya. Sabar dan ikhlas jelas menjadi kunci utamanya. Namun, apa yang mudah diucapkan belum tentu mudah pula dilakukan. Hanya orang – orang tertentu saja yang dapat menyelaraskan perkataan dan perbuatannya.
Pak Ucup adalah salah seorang pengemudi bajaj di Jakarta. Usianya kini telah memasuki setengah abad, tetapi semangatnya kian membara. Bersama istri dan anaknya, mereka tinggal di sebuah kontrakan sederhana di salah satu perkampungan daerah Pisangan, Jakarta Timur. Rutinitas Pak Ucup narik bajaj dimulai setelah waktu subuh hingga pukul sepuluh malam. Sepanjang hari ia habiskan di jalanan dan pulang ke rumah hanya untuk beristirahat serta bercengkerama dengan keluarga.
Semasa mudanya, Pak Ucup menjadi buruh di salah satu pabrik konveksi yang ada di daerah Bekasi. Namun, faktor usia, menyebabkan beliau harus berhenti bekerja di tempat tersebut. Setelah itu, ia bekerja serabutan, apa saja dikerjakan asal halal. Sampai suatu ketika, ada salah seorang kawan yang menawarkan bajaj untuk ia pakai dengan sistem setoran sebagai gantinya. Berkat bantuan itu, Pak Ucup memiliki pekerjaan lagi untuk sehari – harinya.

Nyaris Kehilangan Putri Pertama
Jika sedikit ditilik ke belakang, ternyata banyak ujian hidup yang dialami Pak Ucup. Pada tahun 1990, Pak Ucup menikah dengan Bu Heni. Setelah lima tahun usia pernikahan, Bu Heni mengandung anak pertamanya. Di tengah kebahagiaan yang menyelimuti mereka, ada saja orang yang sirik dan bahkan berniat buruk. Saat usia kehamilannya memasuki empat bulan, Bu Heni pernah diracuni dengan sengaja oleh kakak sepupunya sendiri yang tinggal di dekat rumah mereka, kala itu.
Keberuntungan masih berpihak pada istri Pak Ucup ini. Karena penanganan yang cepat dan belum mendekati kata terlambat, sang ibu dan calon anak dinyatakan berhasil selamat. Setelah diusut, motif pelaku adalah iri dengan kabar kehamilan Bu Heni. Pasalnya, pelaku telah menikah selama hampir genap dua belas tahun, tetapi belum kunjung dikaruniai buah hati. Sebagai seorang suami dan calon ayah, Pak Ucup merasa tidak terima karena keselamatan istri dan calon anaknya terancam. Ia sempat ingin memerkarakan kasus ini ke pihak yang berwajib, tetapi ditahan oleh Bu Heni. Akhirnya masalah ini hanya diselesaikan dengan damai melalui cara kekeluargaan.
Tahun berikutnya, yakni 1996, lahirlah putri pertama mereka yang kini akrab disapa Anin. Layaknya bayi pada umumnya, Anin kecil begitu cantik, lucu, dan sangat menggemaskan. Tiap pagi dan sore hari, Bu Heni selalu mengajak Anin jalan – jalan keliling tempat tinggalnya untuk menghirup udara yang segar.
Tak disangka, suatu sore saat sedang melintas di sebuah jalan gang kecil yang kebetulan sepi, Bu Heni yang berjalan sambil menggendong Anin kecil, berpapasan dengan seorang pria asing. Dilihat dari gelagatnya, sebenarnya tampak ada yang sedikit aneh dan agak mengganjal. Kala itu, Bu Heni berupaya menepis segala dugaan dan prasangka yang kurang baik mengenai sesosok pria tersebut.
“Waktu itu Ibu sore – sore pergi bawa Anin, terus balik – balik dianter tetangga, tapi sambil nangis. Saya ya bingung dan panik, kok anaknya gak ada,” ungkap Pak Ucup dengan pandangan mata yang berusaha menerawang.
Tetangga tersebut mengaku bahwa ia melihat Bu Heni duduk bersimpuh di pinggir jalan sambil menangis, wajahnya pun tampak seperti orang lingung. Saat ditanya, jawabannya pun terkesan ngelantur. Tanpa pikir panjang, Pak Ucup mengundang pemuka agama dan ahli supranatural. Setelah ditelisik, ternyata Bu Heni digendam.
Sekira lima belas menit kemudian, ada salah seorang tetangga lain yang datang ke rumah dan melaporkan bahwa ia melihat Anin digendong secara paksa oleh seorang lelaki tak dikenal. Pak Ucup bertindak cepat, segera bergegas menuju tempat tersebut bersama Ketua RT setempat. Sesampainya di sana, ia melihat Anin sudah berada di bibir sumur sendirian, salah langkah sedikit atau terpeleset, bisa – bisa Anin kecil terjatuh ke sumur yang memiliki kedalaman hampir tiga belas meter. Dengan cekatan, Pak Ucup meraih tangan Anin dan menggendongnya.
Rentetan peristiwa kurang mengenakkan itu terekam jelas di memori dan tak akan terlupakan bagi Pak Ucup beserta istrinya. Walaupun begitu, mereka tetap sangat bersyukur pada Tuhan karena telah menyelamatkan putri semata wayang mereka (saat itu).
Anin tumbuh menjadi gadis lugu yang memiliki segudang prestasi, semangat juangnya patut diapresiasi. Segala keterbatasan yang ia hadapi tak menyurutkan niat dan tekadnya untuk terus belajar dan mencari wawasan yang lebih luas lagi. Tak seperti kebanyakan remaja seusianya, untuk menghabiskan waktu senggang, Anin lebih memilih mengunjungi Perpustakaan Nasional dibandingkan jalan – jalan ke mal. Kalau hanya melihat – lihat hal yang kurang berfaedah, buang – buang waktu, katanya.
Kebiasaan unik Anin – yang lain – adalah selalu mengunjungi Kota Tua setiap seminggu sekali, yakni pada hari Sabtu. Alasannya sangat sederhana, tetapi cukup menohok. Ia ingin ‘melihat’ Indonesia, khususnya Jakarta, di masa lalu. Ya, sejarah juga merupakan salah satu hal yang ia gemari. Anin mengaku sangat sedih ketika melihat anak muda zaman sekarang cenderung lebih memilih ke tempat – tempat hits sebagai destinasi wisata dibanding mendatangi bangunan – bangunan bernilai sejarah tinggi.

Sempat Merasa Gagal
Ketika Anin memasuki bangku Sekolah Dasar, Pak Ucup hanya mampu membelikan seragam dan buku – buku bekas. Tidak seperti anak – anak lain yang tertawa girang sambil saling memamerkan barang yang dimiliki, Anin justru lebih banyak menyendiri. Wajahnya acap kali tampak murung dan seolah – olah tak mempunyai semangat dalam menjalankan aktivitas.
Dahulu, Anin bersifat sangat tertutup. Pak Ucup berpikir, mungkin karena Anin minder dan iri dengan teman – temannya. Namun, ia tidak bisa apa – apa. Keadaan perekonomian yang sangat tidak memungkinkan untuk membeli berbagai macam keperluan sekolah yang baru – hanya bisa bekas. Ia mengaku bahwa sempat merasa gagal menjadi orang tua, khususnya ayah, sebab tidak bisa memenuhi segala keinginan putrinya.
Kendati demikian, sejak kelas satu hingga enam Sekolah Dasar (berturut – turut), Anin selalu mendapatkan peringkat pertama. Jarak total nilai rapornya dengan peraih peringkat kedua pun terhitung cukup jauh. Selain itu, Anin juga sangat getol mengikuti berbagai perlombaan di bawah arahan guru pembimbing. Hasilnya, jangan ditanya lagi. Tiap kompetisi yang diikuti, ia selalu mendapat juara. Tentu hal itu merupakan prestasi besar yang tiada tara. Di satu sisi, Pak Ucup merasa sangat bangga. Namun, di sisi lain, ia makin merasa bersalah pada Anin.
Memasuki jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), sifat Anin mulai menjadi terbuka. Perubahan itu Anin akui sejak ia masuk ekstrakurikuler mengenai penulisan ilmiah di sekolahnya. Prestasinya terus melesat dan seperti kebiasaan semasa duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), ia selalu jadi langganan peringkat pertama di kelasnya, bahkan secara paralel pun demikian.
Melihat prestasi anaknya yang luar biasa, Pak Ucup makin giat bekerja. Semua itu ia jadikan sebagai motivasi pelecut agar dapat memberikan yang terbaik. Semangatnya kian membara, segalanya dilakukan demi membahagiakan keluarga. Biaya pendidikan yang tidak murah, tentu membuat Pak Ucup harus bekerja ekstrakeras demi bisa menyekolahkan ketiga anak mereka. Perasaan ‘gagal jadi orang tua’ pun lama – kelamaan mulai menghilang dan berganti dengan sebuah kebanggaan yang sulit dideskripsikan dengan kata – kata.
Pak Ucup dan Bu Heni sangat sering diundang oleh kepala sekolah Anin semasa Sekolah Menengah Atas (SMA). Awalnya, ia merasa sedih dan takut, dikira anaknya berulah nakal di sekolah. Ternyata realitasnya bukan demikian. Justru mereka diundang ke sekolah karena prestasi Anin yang telah berhasil menyabet juara di tingkat Nasional. Hingga hal tersebut seolah – olah menjadi kebiasaan bagi keluarga mereka.
Tak dimungkiri, ketakutan dan kekhawatiran tetap saja muncul di benak Pak Ucup, terutama. Sebagai kepala keluarga, ia takut hanya bisa menyekolahkan Anin sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) saja. Namun, lagi – lagi segala kecemasan tersebut ia ubah menjadi semangat agar dapat memberikan yang terbaik bagi istri dan anak – anaknya.

Berjuang Membiayai Kuliah Anak Pertamanya
Tahun 2014 menjadi momen yang sangat mendebarkan bagi Pak Ucup sekeluarga. Anin dinyatakan lolos Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) di salah satu jurusan dengan persaingan yang tergolong sangat ketat di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia – sebuah kampus yang masuk deretan top 3 universitas negeri ternama di Indonesia, ribuan siswa bermimpi ingin menjadi bagian serta memiliki yellow jacket. Rasa bahagia dan sedih bercampur aduk menjadi satu. Bahagia karena anaknya hebat dan sedih karena keterbatasan biaya.
Kala itu, sempat terjadi kebimbangan dan gejolak batin yang luar biasa dalam diri Pak Ucup. Sebagai seorang ayah, tentu ingin anaknya dapat mengenyam pendidikan setinggi  - tingginya. Akan tetapi, faktor biaya juga sangat berpengaruh terhadap pertimbangan dalam penentuan keputusan. Istri Pak Ucup, Bu Heni, merupakan seorang buruh cuci di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Penghasilan tambahan yang diperolehnya hanya cukup untuk uang saku Anin dan kedua adiknya yang juga masih sekolah. Itu pun harus benar – benar dihemat semaksimal mungkin.
Anin yang saat itu duduk di bangku akhir Sekolah Menengah Atas, sudah pasrah dengan nasib studi lanjutnya. Bahkan, ia sempat mengajukan opsi untuk tidak mengambil kesempatan emas itu karena tidak ingin memberatkan ayahnya. Anin juga mengatakan kalau ia sempat memilih untuk bekerja, tetapi dilarang oleh Pak Ucup. “Anin dulu sempet bilang ke saya, katanya dia gak mau ambil kuliah di UI, padahal kan udah diterima. Dia bingung masalah biaya, ya saya jawab, itu urusan orang tua yang nyari. Anak ya sekolah aja, biar fokus, gak usah ikut kerja,” ujar Pak Ucup dengan mata yang agak berkaca – kaca.
Pengumuman kelolosan Bidikmisi layaknya petir di siang bolong bagi Pak Ucup sekeluarga. Sebagai anak yang paham kondisi perekonomian keluarga, Anin sempat bingung bagaimana cara dan kapan waktu yang tepat untuk mengabarkan hal ini ke orang tuanya. Setelah berbagai drama dan pergolakan dalam pikiran, ia pun memberanikan diri menceritakan kenyataan yang sesungguhnya. Segalanya terasa berkecamuk di benaknya.
Sebelum kata – kata yang terangkai dalam kalimat itu terucap, Anin sudah membayangkan hal yang tidak – tidak. Bahkan, ia sampai ketakutan jika akan dijodohkan atau lebih parahnya lagi langsung dinikahkan dengan salah seorang tetangganya – mengigat hal tersebut sudah menjadi kebiasaan yang lumrah dari warga di sekitar tempat tinggal mereka. Kebanyakan teman seusia Anin hanya tamat SMP, sebagian kecil lainnya tamat SMA atau SMK lalu bekerja. Itu pun sudah tergolong bagus karena tidak disuruh langsung menikah.
Pak Ucup merupakan tipe orang yang sangat pekerja keras. Apa pun akan ia lakukan demi keluarga. Sejak sepuluh tahun terakhir, memang profesi sebagai sopir bajaj yang dilakoni oleh Pak Ucup. Bajaj yang ia gunakan untuk narik pun bukan milik sendiri. Jadi, tiap hari ia harus memberikan setoran ke pemilik. Kalau sedang ramai – ramainya, uang yang dikumpulkan bisa mencapai tiga ratus ribu rupiah. Namun, Pak Ucup juga pernah tidak mendapat penumpang satu pun selama seharian penuh.
Prinsip dalam hidup yang terus ia tanam dan tumbuh kembangkan ke keluarga ialah harus ikhlas dalam menjalani segala sesuatu, walaupun sulit dan pahit. Jika sedang mendapat cobaan, Pak Ucup selalu berpikir positif, semua pasti ada hikmahnya. Ia sangat percaya bahwa akan ada hal baik yang mengiringi langkah tiap orang yang ikhlas. Kalau dalam istilah Jawa, ojo nggrundel.

Pendidikan Tidak Boleh Ditunda
Tak disangka - sangka, setelah mengetahui yang sesungguhnya, Pak Ucup tetap teguh dan mantap pada pendirian awal. Bagi Pak Ucup, pendidikan adalah hal yang sangat penting dan tidak boleh ditunda. Segalanya akan ia upayakan sekuat tenaga, demi anak dan istrinya. “Dulu saya pengin Anin kuliah di UNJ aja, ambil jurusan keguruan, terus juga biar deket sama rumah. Eh tapi dia udah punya pilihan lain, gak masalah sih. Lagian kan kampusnya sekarang lebih keren, “ kata Pak Ucup dengan semangat. Rona bahagia dan bangga terpancar dari wajahnya.
Pak Ucup mengaku bahwa ia putus sekolah saat duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Pertama (SMP), sedangkan istrinya hanya tamat Sekolah Dasar (SD). Mereka ingin, anak – anaknya dapat mengenyam pendidikan yang jauh lebih tinggi dan lebih baik. Banyak nyinyiran silih berganti mendarat di telinga pasangan suami – istri ini, baik secara langsung maupun tidak langsung.
“Sering banget dikatain ‘mana mampu bayarin sekolah Anin, pake kuliah segala, mending suruh kawin ama orang kaya, beres’ begitu katanya. Sakit ati sih, tapi ya gimana lagi. Saya jadiin penyemangat aja,” kata Pak Ucup sambil mulai menyandarkan punggung ke tembok ruang tamunya.
Anin mengaku sangat bersyukur memiliki orang tua yang mendukung penuh terhadap apa yang dia pilih. Gadis berambut hitam lurus ini ternyata juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Ia tergabung dalam organisasi sosial nonprofit yang bergerak di bidang literasi, pendidikan, dan kepemudaan serta komunitas gerakan cinta lingkungan di luar kampus.
Di tengah kehidupan Jakarta yang begitu keras, Pak Ucup tak henti – hentinya mendukung anak – anak untuk terus bersekolah dan mengukir prestasi. Keyakinan yang tertanam kuat dalam diri Pak Ucup bahwa jika seseorang berhasil menamatkan pendidikan setinggi – tingginya, maka kemungkinan atau peluang untuk mendapatkan hidup layak akan lebih terbuka lebar.
Rasa prihatin acap kali melanda ketika melihat anak tetangganya yang belum tamat sekolah, malah dinikahkan. Alasannya beragam, mulai dari karena tidak sanggup membayar SPP, sering bolos dan tawuran, bahkan yang lebih ngeri lagi, sudah telanjur ‘kecelakaan’. Melihat fenomena yang dianggap ‘lumrah’ di kampungnya tersebut, membuat Pak Ucup makin menguatkan tekad untuk dapat menyekolahkan ketiga anaknya dengan pendidikan yang setinggi – tingginya.
Selama menjadi mahasiswa, Anin telah telah menorehkan berbagai prestasi, terutama di bidang debat, penelitian sosial, esai, fotografi, dan masih banyak lagi. Ia juga menjadi salah seorang penerima beasiswa full dari salah satu lembaga penyelenggara bantuan pendidikan yang bergengsi di Indonesia yang juga bekerja sama dengan pihak asing.
Dalam kesahajaannya, Pak Ucup memiliki cita – cita sederhana yang mulia. Ia ingin bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, sekecil apa pun pengaruhnya. Keterbatasan bukanlah penghalang untuk saling menolong dan membantu sesama. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Seperti itulah Pak Ucup dan Anin, sifatnya sama -  sama mulia, ingin dapat bermanfaat bagi orang lain di sekitarnya.

Alasan Pindah Tempat Tinggal
Ternyata, sebelum tinggal di kontrakan yang sekarang, Pak Ucup dan keluarga tinggal di rumah milik mereka sendiri di daerah Jakarta Utara. Namun, pada tahun 2012, sakit tumor yang diderita oleh Farhan, anak ketiga Pak Ucup, mengharuskannya untuk segera ditindaklanjuti dengan cara operasi. Dalam keadaan tidak memiliki asuransi kesehatan, tentu biaya pengobatannya sangatlah besar dan jika dibiarkan terlalu lama akan terus membengkak.
Dengan segala pertimbangan, maka rumah itu dengan sangat terpaksa dijual untuk biaya perawatan, pengobatan, dan pemulihan Farhan. Sisanya, mereka gunakan untuk mengontrak rumah yang jauh lebih sederhana dan tambahan biaya kebutuhan sehari – hari. Kehidupan perekonomian mereka saat itu dapat dikatakan sangan jauh dari kata stabil. ‘Kehidupan baru’ mereka seolah dimulai kembali dari nol.
“Ya kalau dipikir – pikir pasti berat, makanya gak usah terlalu dipikir. Yang penting jalani aja dengan ikhlas. Nanti pasti ada jalan keluarnya sendiri,” jawab Pak Ucup seraya mengembangkan senyum di bibirnya.

Musibah Harus Tetap Disyukuri
Kini, setahun sudah Anin menjadi alumnus Universitas Indonesia, setelah lulus pada pertengahan 2018. Semasa kuliah dulu, sehari – hari ia mengandalkan moda transportasi commuter line untuk menuju kampus, begitu pula ketika pulang. Anin lebih memilih bolak – balik rumah – kampus tiap hari dibanding menyewa indekos di Depok. Semua ia lakukan demi bisa menghemat pengeluaran, katanya.
Anin bercerita, sekira satu bulan setelah wisuda, ia mendapat panggilan interview setelah melamar pekerjaan di sebuah perusahaan bonafide di daerah Jakarta Selatan. Kala itu, nasib baik tak berpihak padanya. Saat sedang perjalanan menuju tempat interview dengan menggunakan sepeda motor butut milik ayahnya, bagian belakang kendaraannya ditabrak oleh mobil yang menyalip secara brutal dari kiri dan menyebabkan Anin terpental serta terseret sejauh hampir dua puluh meter.
Menurut saksi mata di tempat kejadian, motor yang dikendarai Anin sudah berada di jalur yang benar. Hanya saja, sopir mobil itu berkendara tanpa menaati peraturan. Beberapa warga di sekitar tempat kejadian berusaha mengejar si penabrak itu untuk meminta pertanggungjawaban, tetapi hasilnya nihil. Saat ingin dicatat, pelat nomor mobil itu belum ada, tampaknya kendaraan tersebut masih baru.
Akibat kecelakaan itu, Anin harus dirawat secara intensif di salah satu rumah sakit di Jakarta Pusat selama hampir dua minggu. Kali ini, beban biaya sudah agak tertolong. Beruntungnya, beberapa bulan sebelum wisuda, Anin sempat mendaftarkan dirinya ke salah satu asuransi kesehatan.
Hati orang tua mana yang tidak hancur ketika mendengar kabar bahwa buah hatinya mengalami kecelakaan. Begitu mengetahui berita buruk ini, Pak Ucup bergegas menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Anin. Saat itu, kata pihak dokter yang menangani, helm Anin tak cukup kuat menahan hentakan dengan aspal jalanan, sehingga sebagian kepalanya terbentur agak keras. Anin sempat tak sadarkan diri selama hampir dua hari.
Di rumah, Bu Heni terus merapalkan doa yang tak putus – putus untuk kesembuhan Anin. Peristiwa tak mengenakkan itu seolah membawa ingatannya ke masa lalu, yakni ketika ia dan suaminya hampir saja kehilangan Anin. Ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran berkecamuk jadi satu dalam pikiran Bu Heni.
Pasca – kecelakaan, Anin mengalami keretakan pada tulang kaki kanan yang cukup serius. Kata pihak dokter yang menangani, butuh waktu hingga tiga tahun untuk proses penyembuhan, itu pun harus berobat secara rutin. “Ini kan udah setahun setelah kecelakaan, memang udah ada kemajuan sih, tapi dikit. Sedih gak bisa ngelamar kerjaan di perusahaan impian,” ujar Anin lirih dengan mata berkaca – kaca.
Lagi – lagi, peran Pak Ucup di keluarga ini sangatlah penting. Ia paling jago menguatkan dan membesarkan hati seisi rumahnya. Pak Ucup percaya penuh bahwa segala ujian hidup dan cobaan yang sedang ia dan keluarganya hadapi, berasal dari Tuhan. Bila manusia ikhlas menjalani, maka Tuhan akan membantu hamba-Nya.

Tidak Ingin Menyerah dengan Keadaan
Banyaknya cobaan dan ujian hidup yang dihadapi Pak Ucup beserta keluarga, tidak menyurutkan semangat mereka untuk menjalani hari. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, terima atau tidak terima, hidup ini pasti akan terus berjalan, tanpa peduli keadaan tiap insan.
Di tengah kondisi keluarga yang sering dilanda masalah, Fina, anak kedua Pak Ucup, mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi menengah pertamanya di salah satu pondok pesantren terkemuka di Indonesia yang berada di Jawa Timur. Suatu kabar yang amat menggembirakan bagi keluarga Pak Ucup. “Ya alhamdulillah adek (Fina) gratis sekolah di pondok sampe nanti lulus. Itu rezeki besar buat keluarga kami,” ungkap Bu Heni dengan wajah yang semringah.
Pak Ucup masih bekerja sebagai pengemudi bajaj, begitu pula Bu Heni yang masih menjadi buruh cuci di lingkungan tempat tinggalnya. Gagal bekerja di perusahaan impian, tak menyurutkan semangat dan langkah Anin untuk terus berkarya. Kini, ia menjadi penulis tetap di salah satu media besar di Indonesia. Tak dinyana, penghasilannya pun puluhan kali lipat lebih besar dibanding total pendapatan orang tuanya jika dihitung per bulan.
“Dulu kan aku pengin jadi jurnalis, liputan ke sana ke mari, mobilitasnya tinggi. Tapi gara – gara ini (kakinya yang retak) aku gak bisa. Ya udah deh, sekarang jadi penulis aja, bukan masalah, masih sejalur kan ya,” ujar Anin diikuti tawa renyah.
Menyerah dan menyalahkan keadaan bukanlah suatu hal yang bijak dilakukan. Tiap manusia pasti punya yang berbeda dalam menyikapi permasalahan yang ada. Pak Ucup turut prihatin menyaksikan pemberitaan di televisi mengenai tingginya angka bunuh diri. Ia berharap, semoga semua orang di dunia ini selalu kuat dan tabah menjalani problematika di hidupnya. “Nggak mungkin Tuhan nyiptain masalah buat manusia, tapi nggak ada solusinya. Kalo kita capek, boleh ambil waktu istirahat. Tapi jangan sampe kalah dan nyerah sama keadaan,” pungkas Pak Ucup mengakhiri kisahnya. (Ann)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Boleh Mengeluh Lelah, Asal Jangan Pernah Menyerah

Hidup memang berat dan tak mudah dijalani. Selalu ada saja ujian, cobaan, rintangan, atau apa pun itu julukannya. Sabar dan ikhlas jelas ...