Hidup
memang berat dan tak mudah dijalani. Selalu ada saja ujian, cobaan, rintangan,
atau apa pun itu julukannya. Sabar dan ikhlas jelas menjadi kunci utamanya.
Namun, apa yang mudah diucapkan belum tentu mudah pula dilakukan. Hanya orang –
orang tertentu saja yang dapat menyelaraskan perkataan dan perbuatannya.
Pak
Ucup adalah salah seorang pengemudi bajaj di Jakarta. Usianya kini telah
memasuki setengah abad, tetapi semangatnya kian membara. Bersama istri dan
anaknya, mereka tinggal di sebuah kontrakan sederhana di salah satu
perkampungan daerah Pisangan, Jakarta Timur. Rutinitas Pak Ucup narik bajaj dimulai setelah waktu subuh
hingga pukul sepuluh malam. Sepanjang hari ia habiskan di jalanan dan pulang ke
rumah hanya untuk beristirahat serta bercengkerama dengan keluarga.
Semasa
mudanya, Pak Ucup menjadi buruh di salah satu pabrik konveksi yang ada di
daerah Bekasi. Namun, faktor usia, menyebabkan beliau harus berhenti bekerja di
tempat tersebut. Setelah itu, ia bekerja serabutan, apa saja dikerjakan asal
halal. Sampai suatu ketika, ada salah seorang kawan yang menawarkan bajaj untuk
ia pakai dengan sistem setoran sebagai gantinya. Berkat bantuan itu, Pak Ucup
memiliki pekerjaan lagi untuk sehari – harinya.
Nyaris Kehilangan Putri Pertama
Jika
sedikit ditilik ke belakang, ternyata banyak ujian hidup yang dialami Pak Ucup.
Pada tahun 1990, Pak Ucup menikah dengan Bu Heni. Setelah lima tahun usia
pernikahan, Bu Heni mengandung anak pertamanya. Di tengah kebahagiaan yang
menyelimuti mereka, ada saja orang yang sirik
dan bahkan berniat buruk. Saat usia kehamilannya memasuki empat bulan, Bu Heni
pernah diracuni dengan sengaja oleh kakak sepupunya sendiri yang tinggal di
dekat rumah mereka, kala itu.
Keberuntungan
masih berpihak pada istri Pak Ucup ini. Karena penanganan yang cepat dan belum
mendekati kata terlambat, sang ibu dan calon anak dinyatakan berhasil selamat.
Setelah diusut, motif pelaku adalah iri dengan kabar kehamilan Bu Heni.
Pasalnya, pelaku telah menikah selama hampir genap dua belas tahun, tetapi
belum kunjung dikaruniai buah hati. Sebagai seorang suami dan calon ayah, Pak
Ucup merasa tidak terima karena keselamatan istri dan calon anaknya terancam.
Ia sempat ingin memerkarakan kasus ini ke pihak yang berwajib, tetapi ditahan
oleh Bu Heni. Akhirnya masalah ini hanya diselesaikan dengan damai melalui cara
kekeluargaan.
Tahun
berikutnya, yakni 1996, lahirlah putri pertama mereka yang kini akrab disapa
Anin. Layaknya bayi pada umumnya, Anin kecil begitu cantik, lucu, dan sangat
menggemaskan. Tiap pagi dan sore hari, Bu Heni selalu mengajak Anin jalan –
jalan keliling tempat tinggalnya untuk menghirup udara yang segar.
Tak
disangka, suatu sore saat sedang melintas di sebuah jalan gang kecil yang
kebetulan sepi, Bu Heni yang berjalan sambil menggendong Anin kecil, berpapasan
dengan seorang pria asing. Dilihat dari gelagatnya, sebenarnya tampak ada yang
sedikit aneh dan agak mengganjal. Kala itu, Bu Heni berupaya menepis segala
dugaan dan prasangka yang kurang baik mengenai sesosok pria tersebut.
“Waktu
itu Ibu sore – sore pergi bawa Anin, terus balik – balik dianter tetangga, tapi sambil nangis.
Saya ya bingung dan panik, kok anaknya gak
ada,” ungkap Pak Ucup dengan pandangan mata yang berusaha menerawang.
Tetangga
tersebut mengaku bahwa ia melihat Bu Heni duduk bersimpuh di pinggir jalan
sambil menangis, wajahnya pun tampak seperti orang lingung. Saat ditanya,
jawabannya pun terkesan ngelantur.
Tanpa pikir panjang, Pak Ucup mengundang pemuka agama dan ahli supranatural.
Setelah ditelisik, ternyata Bu Heni digendam.
Sekira
lima belas menit kemudian, ada salah seorang tetangga lain yang datang ke rumah
dan melaporkan bahwa ia melihat Anin digendong secara paksa oleh seorang lelaki
tak dikenal. Pak Ucup bertindak cepat, segera bergegas menuju tempat tersebut
bersama Ketua RT setempat. Sesampainya di sana, ia melihat Anin sudah berada di
bibir sumur sendirian, salah langkah sedikit atau terpeleset, bisa – bisa Anin
kecil terjatuh ke sumur yang memiliki kedalaman hampir tiga belas meter. Dengan
cekatan, Pak Ucup meraih tangan Anin dan menggendongnya.
Rentetan
peristiwa kurang mengenakkan itu terekam jelas di memori dan tak akan
terlupakan bagi Pak Ucup beserta istrinya. Walaupun begitu, mereka tetap sangat
bersyukur pada Tuhan karena telah menyelamatkan putri semata wayang mereka
(saat itu).
Anin
tumbuh menjadi gadis lugu yang memiliki segudang prestasi, semangat juangnya
patut diapresiasi. Segala keterbatasan yang ia hadapi tak menyurutkan niat dan tekadnya
untuk terus belajar dan mencari wawasan yang lebih luas lagi. Tak seperti
kebanyakan remaja seusianya, untuk menghabiskan waktu senggang, Anin lebih
memilih mengunjungi Perpustakaan Nasional dibandingkan jalan – jalan ke mal.
Kalau hanya melihat – lihat hal yang kurang berfaedah, buang – buang waktu,
katanya.
Kebiasaan
unik Anin – yang lain – adalah selalu mengunjungi Kota Tua setiap seminggu
sekali, yakni pada hari Sabtu. Alasannya sangat sederhana, tetapi cukup
menohok. Ia ingin ‘melihat’ Indonesia,
khususnya Jakarta, di masa lalu. Ya, sejarah juga merupakan salah satu hal yang
ia gemari. Anin mengaku sangat sedih ketika melihat anak muda zaman sekarang
cenderung lebih memilih ke tempat – tempat hits
sebagai destinasi wisata dibanding mendatangi bangunan – bangunan bernilai
sejarah tinggi.
Sempat Merasa Gagal
Ketika
Anin memasuki bangku Sekolah Dasar, Pak Ucup hanya mampu membelikan seragam dan
buku – buku bekas. Tidak seperti anak – anak lain yang tertawa girang sambil
saling memamerkan barang yang dimiliki, Anin justru lebih banyak menyendiri.
Wajahnya acap kali tampak murung dan seolah – olah tak mempunyai semangat dalam
menjalankan aktivitas.
Dahulu,
Anin bersifat sangat tertutup. Pak Ucup berpikir, mungkin karena Anin minder
dan iri dengan teman – temannya. Namun, ia tidak bisa apa – apa. Keadaan
perekonomian yang sangat tidak memungkinkan untuk membeli berbagai macam
keperluan sekolah yang baru – hanya bisa bekas. Ia mengaku bahwa sempat merasa
gagal menjadi orang tua, khususnya ayah, sebab tidak bisa memenuhi segala
keinginan putrinya.
Kendati
demikian, sejak kelas satu hingga enam Sekolah Dasar (berturut – turut), Anin
selalu mendapatkan peringkat pertama. Jarak total nilai rapornya dengan peraih
peringkat kedua pun terhitung cukup jauh. Selain itu, Anin juga sangat getol
mengikuti berbagai perlombaan di bawah arahan guru pembimbing. Hasilnya, jangan
ditanya lagi. Tiap kompetisi yang diikuti, ia selalu mendapat juara. Tentu hal
itu merupakan prestasi besar yang tiada tara. Di satu sisi, Pak Ucup merasa
sangat bangga. Namun, di sisi lain, ia makin merasa bersalah pada Anin.
Memasuki
jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), sifat Anin mulai menjadi
terbuka. Perubahan itu Anin akui sejak ia masuk ekstrakurikuler mengenai
penulisan ilmiah di sekolahnya. Prestasinya terus melesat dan seperti kebiasaan
semasa duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), ia selalu jadi langganan peringkat
pertama di kelasnya, bahkan secara paralel pun demikian.
Melihat
prestasi anaknya yang luar biasa, Pak Ucup makin giat bekerja. Semua itu ia
jadikan sebagai motivasi pelecut agar dapat memberikan yang terbaik.
Semangatnya kian membara, segalanya dilakukan demi membahagiakan keluarga.
Biaya pendidikan yang tidak murah, tentu membuat Pak Ucup harus bekerja ekstrakeras
demi bisa menyekolahkan ketiga anak mereka. Perasaan ‘gagal jadi orang tua’ pun lama – kelamaan mulai menghilang dan
berganti dengan sebuah kebanggaan yang sulit dideskripsikan dengan kata – kata.
Pak
Ucup dan Bu Heni sangat sering diundang oleh kepala sekolah Anin semasa Sekolah
Menengah Atas (SMA). Awalnya, ia merasa sedih dan takut, dikira anaknya berulah
nakal di sekolah. Ternyata realitasnya bukan demikian. Justru mereka diundang
ke sekolah karena prestasi Anin yang telah berhasil menyabet juara di tingkat
Nasional. Hingga hal tersebut seolah – olah menjadi kebiasaan bagi keluarga
mereka.
Tak
dimungkiri, ketakutan dan kekhawatiran tetap saja muncul di benak Pak Ucup,
terutama. Sebagai kepala keluarga, ia takut hanya bisa menyekolahkan Anin
sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) saja. Namun, lagi – lagi segala kecemasan
tersebut ia ubah menjadi semangat agar dapat memberikan yang terbaik bagi istri
dan anak – anaknya.
Berjuang Membiayai Kuliah Anak Pertamanya
Tahun
2014 menjadi momen yang sangat mendebarkan bagi Pak Ucup sekeluarga. Anin
dinyatakan lolos Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) di
salah satu jurusan dengan persaingan yang tergolong sangat ketat di Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia – sebuah kampus yang masuk
deretan top 3 universitas negeri
ternama di Indonesia, ribuan siswa bermimpi ingin menjadi bagian serta memiliki
yellow jacket. Rasa bahagia dan sedih
bercampur aduk menjadi satu. Bahagia karena anaknya hebat dan sedih karena
keterbatasan biaya.
Kala
itu, sempat terjadi kebimbangan dan gejolak batin yang luar biasa dalam diri
Pak Ucup. Sebagai seorang ayah, tentu ingin anaknya dapat mengenyam pendidikan
setinggi - tingginya. Akan tetapi, faktor
biaya juga sangat berpengaruh terhadap pertimbangan dalam penentuan keputusan.
Istri Pak Ucup, Bu Heni, merupakan seorang buruh cuci di lingkungan sekitar
tempat tinggalnya. Penghasilan tambahan yang diperolehnya hanya cukup untuk
uang saku Anin dan kedua adiknya yang juga masih sekolah. Itu pun harus benar –
benar dihemat semaksimal mungkin.
Anin
yang saat itu duduk di bangku akhir Sekolah Menengah Atas, sudah pasrah dengan
nasib studi lanjutnya. Bahkan, ia sempat mengajukan opsi untuk tidak mengambil
kesempatan emas itu karena tidak ingin memberatkan ayahnya. Anin juga
mengatakan kalau ia sempat memilih untuk bekerja, tetapi dilarang oleh Pak
Ucup. “Anin dulu sempet bilang ke
saya, katanya dia gak mau ambil
kuliah di UI, padahal kan udah
diterima. Dia bingung masalah biaya, ya saya jawab, itu urusan orang tua yang nyari. Anak ya sekolah aja, biar fokus, gak usah ikut kerja,” ujar Pak Ucup dengan mata yang agak berkaca –
kaca.
Pengumuman
kelolosan Bidikmisi layaknya petir di siang bolong bagi Pak Ucup sekeluarga.
Sebagai anak yang paham kondisi perekonomian keluarga, Anin sempat bingung
bagaimana cara dan kapan waktu yang tepat untuk mengabarkan hal ini ke orang
tuanya. Setelah berbagai drama dan
pergolakan dalam pikiran, ia pun memberanikan diri menceritakan kenyataan yang
sesungguhnya. Segalanya terasa berkecamuk di benaknya.
Sebelum
kata – kata yang terangkai dalam kalimat itu terucap, Anin sudah membayangkan
hal yang tidak – tidak. Bahkan, ia sampai ketakutan jika akan dijodohkan atau
lebih parahnya lagi langsung dinikahkan dengan salah seorang tetangganya –
mengigat hal tersebut sudah menjadi kebiasaan yang lumrah dari warga di sekitar
tempat tinggal mereka. Kebanyakan teman seusia Anin hanya tamat SMP, sebagian
kecil lainnya tamat SMA atau SMK lalu bekerja. Itu pun sudah tergolong bagus
karena tidak disuruh langsung menikah.
Pak
Ucup merupakan tipe orang yang sangat pekerja keras. Apa pun akan ia lakukan
demi keluarga. Sejak sepuluh tahun terakhir, memang profesi sebagai sopir bajaj
yang dilakoni oleh Pak Ucup. Bajaj yang ia gunakan untuk narik pun bukan milik sendiri. Jadi, tiap hari ia harus memberikan
setoran ke pemilik. Kalau sedang ramai – ramainya, uang yang dikumpulkan bisa
mencapai tiga ratus ribu rupiah. Namun, Pak Ucup juga pernah tidak mendapat
penumpang satu pun selama seharian penuh.
Prinsip
dalam hidup yang terus ia tanam dan tumbuh kembangkan ke keluarga ialah harus
ikhlas dalam menjalani segala sesuatu, walaupun sulit dan pahit. Jika sedang
mendapat cobaan, Pak Ucup selalu berpikir positif, semua pasti ada hikmahnya.
Ia sangat percaya bahwa akan ada hal baik yang mengiringi langkah tiap orang
yang ikhlas. Kalau dalam istilah Jawa, ojo
nggrundel.
Pendidikan Tidak Boleh Ditunda
Tak
disangka - sangka, setelah mengetahui yang sesungguhnya, Pak Ucup tetap teguh
dan mantap pada pendirian awal. Bagi Pak Ucup, pendidikan adalah hal yang
sangat penting dan tidak boleh ditunda. Segalanya akan ia upayakan sekuat
tenaga, demi anak dan istrinya. “Dulu saya pengin Anin kuliah di UNJ aja, ambil jurusan keguruan, terus juga
biar deket sama rumah. Eh tapi dia udah
punya pilihan lain, gak masalah sih. Lagian kan kampusnya sekarang lebih
keren, “ kata Pak Ucup dengan semangat. Rona bahagia dan bangga terpancar dari
wajahnya.
Pak
Ucup mengaku bahwa ia putus sekolah saat duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah
Pertama (SMP), sedangkan istrinya hanya tamat Sekolah Dasar (SD). Mereka ingin,
anak – anaknya dapat mengenyam pendidikan yang jauh lebih tinggi dan lebih
baik. Banyak nyinyiran silih berganti
mendarat di telinga pasangan suami – istri ini, baik secara langsung maupun
tidak langsung.
“Sering
banget dikatain ‘mana mampu bayarin
sekolah Anin, pake kuliah segala,
mending suruh kawin ama orang kaya,
beres’ begitu katanya. Sakit ati sih,
tapi ya gimana lagi. Saya jadiin penyemangat aja,” kata Pak Ucup sambil mulai menyandarkan punggung ke tembok
ruang tamunya.
Anin
mengaku sangat bersyukur memiliki orang tua yang mendukung penuh terhadap apa
yang dia pilih. Gadis berambut hitam lurus ini ternyata juga memiliki jiwa
sosial yang tinggi. Ia tergabung dalam organisasi sosial nonprofit yang
bergerak di bidang literasi, pendidikan, dan kepemudaan serta komunitas gerakan
cinta lingkungan di luar kampus.
Di
tengah kehidupan Jakarta yang begitu keras, Pak Ucup tak henti – hentinya
mendukung anak – anak untuk terus bersekolah dan mengukir prestasi. Keyakinan
yang tertanam kuat dalam diri Pak Ucup bahwa jika seseorang berhasil menamatkan
pendidikan setinggi – tingginya, maka kemungkinan atau peluang untuk
mendapatkan hidup layak akan lebih terbuka lebar.
Rasa
prihatin acap kali melanda ketika melihat anak tetangganya yang belum tamat
sekolah, malah dinikahkan. Alasannya beragam, mulai dari karena tidak sanggup
membayar SPP, sering bolos dan tawuran, bahkan yang lebih ngeri lagi, sudah
telanjur ‘kecelakaan’. Melihat
fenomena yang dianggap ‘lumrah’ di
kampungnya tersebut, membuat Pak Ucup makin menguatkan tekad untuk dapat
menyekolahkan ketiga anaknya dengan pendidikan yang setinggi – tingginya.
Selama
menjadi mahasiswa, Anin telah telah menorehkan berbagai prestasi, terutama di
bidang debat, penelitian sosial, esai, fotografi, dan masih banyak lagi. Ia
juga menjadi salah seorang penerima beasiswa full dari salah satu lembaga penyelenggara bantuan pendidikan yang
bergengsi di Indonesia yang juga bekerja sama dengan pihak asing.
Dalam
kesahajaannya, Pak Ucup memiliki cita – cita sederhana yang mulia. Ia ingin
bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, sekecil apa pun
pengaruhnya. Keterbatasan bukanlah penghalang untuk saling menolong dan
membantu sesama. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Seperti itulah Pak Ucup
dan Anin, sifatnya sama - sama mulia, ingin
dapat bermanfaat bagi orang lain di sekitarnya.
Alasan Pindah Tempat Tinggal
Ternyata,
sebelum tinggal di kontrakan yang sekarang, Pak Ucup dan keluarga tinggal di
rumah milik mereka sendiri di daerah Jakarta Utara. Namun, pada tahun 2012,
sakit tumor yang diderita oleh Farhan, anak ketiga Pak Ucup, mengharuskannya
untuk segera ditindaklanjuti dengan cara operasi. Dalam keadaan tidak memiliki
asuransi kesehatan, tentu biaya pengobatannya sangatlah besar dan jika
dibiarkan terlalu lama akan terus membengkak.
Dengan
segala pertimbangan, maka rumah itu dengan sangat terpaksa dijual untuk biaya
perawatan, pengobatan, dan pemulihan Farhan. Sisanya, mereka gunakan untuk
mengontrak rumah yang jauh lebih sederhana dan tambahan biaya kebutuhan sehari
– hari. Kehidupan perekonomian mereka saat itu dapat dikatakan sangan jauh dari
kata stabil. ‘Kehidupan baru’ mereka
seolah dimulai kembali dari nol.
“Ya
kalau dipikir – pikir pasti berat, makanya gak
usah terlalu dipikir. Yang penting jalani aja
dengan ikhlas. Nanti pasti ada jalan keluarnya sendiri,” jawab Pak Ucup seraya
mengembangkan senyum di bibirnya.
Musibah Harus Tetap Disyukuri
Kini,
setahun sudah Anin menjadi alumnus Universitas Indonesia, setelah lulus pada
pertengahan 2018. Semasa kuliah dulu, sehari – hari ia mengandalkan moda
transportasi commuter line untuk
menuju kampus, begitu pula ketika pulang. Anin lebih memilih bolak – balik rumah – kampus tiap hari
dibanding menyewa indekos di Depok. Semua ia lakukan demi bisa menghemat
pengeluaran, katanya.
Anin
bercerita, sekira satu bulan setelah wisuda, ia mendapat panggilan interview setelah melamar pekerjaan di
sebuah perusahaan bonafide di daerah Jakarta Selatan. Kala itu, nasib baik tak
berpihak padanya. Saat sedang perjalanan menuju tempat interview dengan menggunakan sepeda motor butut milik ayahnya,
bagian belakang kendaraannya ditabrak oleh mobil yang menyalip secara brutal
dari kiri dan menyebabkan Anin terpental serta terseret sejauh hampir dua puluh
meter.
Menurut
saksi mata di tempat kejadian, motor yang dikendarai Anin sudah berada di jalur
yang benar. Hanya saja, sopir mobil itu berkendara tanpa menaati peraturan.
Beberapa warga di sekitar tempat kejadian berusaha mengejar si penabrak itu
untuk meminta pertanggungjawaban, tetapi hasilnya nihil. Saat ingin dicatat,
pelat nomor mobil itu belum ada, tampaknya kendaraan tersebut masih baru.
Akibat
kecelakaan itu, Anin harus dirawat secara intensif di salah satu rumah sakit di
Jakarta Pusat selama hampir dua minggu. Kali ini, beban biaya sudah agak
tertolong. Beruntungnya, beberapa bulan sebelum wisuda, Anin sempat
mendaftarkan dirinya ke salah satu asuransi kesehatan.
Hati
orang tua mana yang tidak hancur ketika mendengar kabar bahwa buah hatinya
mengalami kecelakaan. Begitu mengetahui berita buruk ini, Pak Ucup bergegas
menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Anin. Saat itu, kata pihak dokter yang
menangani, helm Anin tak cukup kuat menahan hentakan dengan aspal jalanan,
sehingga sebagian kepalanya terbentur agak keras. Anin sempat tak sadarkan diri
selama hampir dua hari.
Di
rumah, Bu Heni terus merapalkan doa yang tak putus – putus untuk kesembuhan
Anin. Peristiwa tak mengenakkan itu seolah membawa ingatannya ke masa lalu,
yakni ketika ia dan suaminya hampir saja kehilangan Anin. Ketakutan, kecemasan,
dan kekhawatiran berkecamuk jadi satu dalam pikiran Bu Heni.
Pasca
– kecelakaan, Anin mengalami keretakan pada tulang kaki kanan yang cukup
serius. Kata pihak dokter yang menangani, butuh waktu hingga tiga tahun untuk
proses penyembuhan, itu pun harus berobat secara rutin. “Ini kan udah setahun setelah kecelakaan, memang udah ada kemajuan sih, tapi dikit. Sedih
gak bisa ngelamar kerjaan di perusahaan impian,” ujar Anin lirih dengan mata
berkaca – kaca.
Lagi
– lagi, peran Pak Ucup di keluarga ini sangatlah penting. Ia paling jago
menguatkan dan membesarkan hati seisi rumahnya. Pak Ucup percaya penuh bahwa
segala ujian hidup dan cobaan yang sedang ia dan keluarganya hadapi, berasal
dari Tuhan. Bila manusia ikhlas menjalani, maka Tuhan akan membantu hamba-Nya.
Tidak Ingin Menyerah dengan Keadaan
Banyaknya
cobaan dan ujian hidup yang dihadapi Pak Ucup beserta keluarga, tidak
menyurutkan semangat mereka untuk menjalani hari. Suka atau tidak suka, mau
atau tidak mau, terima atau tidak terima, hidup ini pasti akan terus berjalan,
tanpa peduli keadaan tiap insan.
Di
tengah kondisi keluarga yang sering dilanda masalah, Fina, anak kedua Pak Ucup,
mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi menengah pertamanya di salah satu
pondok pesantren terkemuka di Indonesia yang berada di Jawa Timur. Suatu kabar
yang amat menggembirakan bagi keluarga Pak Ucup. “Ya alhamdulillah adek (Fina) gratis sekolah di pondok sampe nanti lulus. Itu rezeki besar buat
keluarga kami,” ungkap Bu Heni dengan wajah yang semringah.
Pak
Ucup masih bekerja sebagai pengemudi bajaj, begitu pula Bu Heni yang masih
menjadi buruh cuci di lingkungan tempat tinggalnya. Gagal bekerja di perusahaan
impian, tak menyurutkan semangat dan langkah Anin untuk terus berkarya. Kini,
ia menjadi penulis tetap di salah satu media besar di Indonesia. Tak dinyana,
penghasilannya pun puluhan kali lipat lebih besar dibanding total pendapatan
orang tuanya jika dihitung per bulan.
“Dulu
kan aku pengin jadi jurnalis, liputan ke sana ke mari, mobilitasnya tinggi.
Tapi gara – gara ini (kakinya yang retak) aku gak bisa. Ya udah deh,
sekarang jadi penulis aja, bukan
masalah, masih sejalur kan ya,” ujar Anin diikuti tawa renyah.
Menyerah
dan menyalahkan keadaan bukanlah suatu hal yang bijak dilakukan. Tiap manusia
pasti punya yang berbeda dalam menyikapi permasalahan yang ada. Pak Ucup turut
prihatin menyaksikan pemberitaan di televisi mengenai tingginya angka bunuh
diri. Ia berharap, semoga semua orang di dunia ini selalu kuat dan tabah
menjalani problematika di hidupnya. “Nggak
mungkin Tuhan nyiptain masalah buat
manusia, tapi nggak ada solusinya. Kalo kita capek, boleh ambil waktu
istirahat. Tapi jangan sampe kalah
dan nyerah sama keadaan,” pungkas Pak Ucup mengakhiri kisahnya. (Ann)




