Sebagai
mahasiswa, mengikuti agenda perkuliahan tentu sudah kewajiban. Namun, aktif
berorganisasi dan berprestasi merupakan pilihan. Salah seorang contohnya Egi
Famela, mahasiswi Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro
angkatan 2017. Sejak kecil, ia sudah berkecimpung dalam dunia tarik suara dan
tari tradisional. Tak heran, bakatnya tersebut terus terasah hingga dapat
menyabet berbagai kejuaraan di bidang yang digelutinya selama bertahun-tahun. Organisasi
kampus yang diikutinya pun beragam, antara lain Orange Choir, Tari Tradisi
Nusantara (Tatra), Forum Keluarga Mahasiswa Muslim (FKMM) FISIP, dan Insani
Undip. Di tengah kesibukannya, mahasiswi semester tiga ini tetap tak lupa
dengan kewajiban menuntut ilmu secara formal di kampus.
Baru-baru
ini Egi mengikuti ajang pemilihan Duta Genre Jalur Pendidikan dan lolos hingga seleksi
tingkat Provinsi Jawa Tengah mewakili Kota Semarang yang diadakan di MG Setos
Hotel Semarang pada tanggal 4-6 September 2018 lalu. Gambaran umumnya, Duta
Genre adalah salah satu bagian dari program BKKBN yang bertujuan merangkul dan
mengajak orang-orang di lingkungan sekitar supaya lebih merencanakan hidup
mereka melalui beberapa anak program lain, yaitu Bina Keluarga Balita, Bina
Keluarga Remaja, dan Bina Keluarga Lansia. Alasan Egi mengikuti kompetisi ini
karena resah dengan mayoritas remaja era milenial yang krisis moral. Ia ingin mengajak
anak muda, khususnya remaja agar bersama-sama merencanakan hidup mulai dari
pendidikan, karier, hingga waktunya membangun rumah tangga.
![]() |
| Egi (kedua dari kiri) berfoto bersama peserta lain |
“Dulu
aku cuma tahu Duta Genre secara umum banget, enggak tahu detailnya seperti apa.
Beberapa bulan yang lalu saat udah
sampai di Semarang aku ikut Diponegoro
Art Competition dan ternyata kebetulan bareng sama mantan Duta Genre Jawa
Tengah 2015. Di situ ditawarin deh.
Karena aku penasaran juga, akhirnya aku ikut. Aku diajarin dan dibimbing sama dia. Setelah itu baru ikut seleksi di
tingkat kota, terus di tingkat provinsi,” ujar Egi saat disambangi di
kediamannya pada Senin (17/9). Ia mengakui tidak banyak persiapan belajar
materi yang dilakukan karena berbarengan dengan Lomba Peksimida di Aceh.
Sebaliknya, ia justru lebih menekankan pada latihan untuk penampilan bakat
dalam ajang Duta Genre, yaitu seriosa. “Aku memang nggak suka koar ke temen-temen
kalau ikut lomba. Terus tiba-tiba semua langsung pada heboh aja pas ketahuan lolos dan menang,”
jelasnya.
Egi
menyatakan bahwa tak ada kecemasan saat pengumuman pemenang Duta Genre karena
merasa kurang berpengalaman di bidang PIKR (Pusat Informasi dan Konseling
Remaja). Namun, rasa gelisah muncul ketika pengumuman Kategori Berbakat. Egi
memang berusaha mengejar prestasi di bidang tersebut. Kerja kerasnya pun
terbayar sudah. Ia terpilih menjadi Juara Berbakat Putri Duta Genre Jalur
Pendidikan Provinsi Jawa Tengah 2018. Menurutnya, tiap kegiatan nonakademik
tidak ada yang mengganggu. Seharusnya dari masing-masing individu bisa pandai
dan jeli mengatur waktu. “Sebenarnya kalau mengganggu waktu kuliah sih enggak,
tapi kalau mengganggu kualitas kuliah iya. Kadang saat kuliah berlangsung, suka
kepikiran proker organisasi,” papar Egi.
Setelah
mengikuti serangkaian acara pemilihan Duta Genre, Egi ingin menerapkan ilmu
yang telah didapatkan dengan membentuk lingkaran kecil (semacam komunitas) di
lingkungan FISIP yang membahas mengenai perencanaan kehidupan remaja di masa
kini hingga masa depan. Jika komunitas itu sudah memiliki banyak anggota dan
cukup berkembang, ia berencana mengajukannya sebagai UPK baru di FISIP Undip.
“Di sana kami diajarkan menjadi manusia yang tidak egois. Harus peka dan peduli
dengan orang lain dan lingkungan sekitar,” ungkapnya.
“Ke
depannya belum kepikiran ingin ikut
ajang pemilihan apa lagi, tapi kayaknya
cukup tertarik nih dengan Duta Budaya. Cuma ya kendalanya aku kan pengin ikut
yang Jawa Tengah, sedangkan itu harus bisa bahasa Jawa. Aku sendiri masih usaha
mempelajarinya. Aku juga pengin gabung di Gita Bahana Nusantara dan nyanyi
diiringi orkestra yang dipimpin Addie MS,” tutur Egi. Sebagai finalis Duta
Genre Jawa Tengah 2018, ia berpesan agar anak muda zaman now menjadi generasi yang lebih baik lagi terutama dari segi
pendidikan karena menurutnya itu merupakan fondasi kehidupan. “Kalau pendidikan
sudah matang dan tertanam kuat, insyaallah sosial dan segala hal lain di
dirinya pun ikut baik,” pungkasnya menutup wawancara siang itu. (Ann)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar