Senin, 24 September 2018

Mahasiswa Komunikasi, Penebar Prestasi dan Pembangun Empati


Sebagai mahasiswa, mengikuti agenda perkuliahan tentu sudah kewajiban. Namun, aktif berorganisasi dan berprestasi merupakan pilihan. Salah seorang contohnya Egi Famela, mahasiswi Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro angkatan 2017. Sejak kecil, ia sudah berkecimpung dalam dunia tarik suara dan tari tradisional. Tak heran, bakatnya tersebut terus terasah hingga dapat menyabet berbagai kejuaraan di bidang yang digelutinya selama bertahun-tahun. Organisasi kampus yang diikutinya pun beragam, antara lain Orange Choir, Tari Tradisi Nusantara (Tatra), Forum Keluarga Mahasiswa Muslim (FKMM) FISIP, dan Insani Undip. Di tengah kesibukannya, mahasiswi semester tiga ini tetap tak lupa dengan kewajiban menuntut ilmu secara formal di kampus.
                        Baru-baru ini Egi mengikuti ajang pemilihan Duta Genre Jalur Pendidikan dan lolos hingga seleksi tingkat Provinsi Jawa Tengah mewakili Kota Semarang yang diadakan di MG Setos Hotel Semarang pada tanggal 4-6 September 2018 lalu. Gambaran umumnya, Duta Genre adalah salah satu bagian dari program BKKBN yang bertujuan merangkul dan mengajak orang-orang di lingkungan sekitar supaya lebih merencanakan hidup mereka melalui beberapa anak program lain, yaitu Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Remaja, dan Bina Keluarga Lansia. Alasan Egi mengikuti kompetisi ini karena resah dengan mayoritas remaja era milenial yang krisis moral. Ia ingin mengajak anak muda, khususnya remaja agar bersama-sama merencanakan hidup mulai dari pendidikan, karier, hingga waktunya membangun rumah tangga.  
Egi (kedua dari kiri) berfoto bersama peserta lain
                        “Dulu aku cuma tahu Duta Genre secara umum banget, enggak tahu detailnya seperti apa. Beberapa bulan yang lalu saat udah sampai di Semarang aku ikut Diponegoro Art Competition dan ternyata kebetulan bareng sama mantan Duta Genre Jawa Tengah 2015. Di situ ditawarin deh. Karena aku penasaran juga, akhirnya aku ikut. Aku diajarin dan dibimbing sama dia. Setelah itu baru ikut seleksi di tingkat kota, terus di tingkat provinsi,” ujar Egi saat disambangi di kediamannya pada Senin (17/9). Ia mengakui tidak banyak persiapan belajar materi yang dilakukan karena berbarengan dengan Lomba Peksimida di Aceh. Sebaliknya, ia justru lebih menekankan pada latihan untuk penampilan bakat dalam ajang Duta Genre, yaitu seriosa. “Aku memang nggak suka koar ke temen-temen kalau ikut lomba. Terus tiba-tiba semua langsung pada heboh aja pas ketahuan lolos dan menang,” jelasnya.
                        Egi menyatakan bahwa tak ada kecemasan saat pengumuman pemenang Duta Genre karena merasa kurang berpengalaman di bidang PIKR (Pusat Informasi dan Konseling Remaja). Namun, rasa gelisah muncul ketika pengumuman Kategori Berbakat. Egi memang berusaha mengejar prestasi di bidang tersebut. Kerja kerasnya pun terbayar sudah. Ia terpilih menjadi Juara Berbakat Putri Duta Genre Jalur Pendidikan Provinsi Jawa Tengah 2018. Menurutnya, tiap kegiatan nonakademik tidak ada yang mengganggu. Seharusnya dari masing-masing individu bisa pandai dan jeli mengatur waktu. “Sebenarnya kalau mengganggu waktu kuliah sih enggak, tapi kalau mengganggu kualitas kuliah iya. Kadang saat kuliah berlangsung, suka kepikiran proker organisasi,” papar Egi.


                        Setelah mengikuti serangkaian acara pemilihan Duta Genre, Egi ingin menerapkan ilmu yang telah didapatkan dengan membentuk lingkaran kecil (semacam komunitas) di lingkungan FISIP yang membahas mengenai perencanaan kehidupan remaja di masa kini hingga masa depan. Jika komunitas itu sudah memiliki banyak anggota dan cukup berkembang, ia berencana mengajukannya sebagai UPK baru di FISIP Undip. “Di sana kami diajarkan menjadi manusia yang tidak egois. Harus peka dan peduli dengan orang lain dan lingkungan sekitar,” ungkapnya.

                        “Ke depannya belum kepikiran ingin ikut ajang pemilihan apa lagi, tapi kayaknya cukup tertarik nih dengan Duta Budaya. Cuma ya kendalanya aku kan pengin ikut yang Jawa Tengah, sedangkan itu harus bisa bahasa Jawa. Aku sendiri masih usaha mempelajarinya. Aku juga pengin gabung di Gita Bahana Nusantara dan nyanyi diiringi orkestra yang dipimpin Addie MS,” tutur Egi. Sebagai finalis Duta Genre Jawa Tengah 2018, ia berpesan agar anak muda zaman now menjadi generasi yang lebih baik lagi terutama dari segi pendidikan karena menurutnya itu merupakan fondasi kehidupan. “Kalau pendidikan sudah matang dan tertanam kuat, insyaallah sosial dan segala hal lain di dirinya pun ikut baik,” pungkasnya menutup wawancara siang itu. (Ann)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Boleh Mengeluh Lelah, Asal Jangan Pernah Menyerah

Hidup memang berat dan tak mudah dijalani. Selalu ada saja ujian, cobaan, rintangan, atau apa pun itu julukannya. Sabar dan ikhlas jelas ...