Hai
semuanya? Apa yang kalian pikirkan mengenai jurusan Bahasa dan Sastra
Indonesia? Kalau bicara pasti pakai
bahasa baku? Ke mana-mana bawa KBBI? Nemu kata nggak baku dikit langsung
dikoreksi? Puitis? Calon sastrawan? Penerus Eyang Sapardi Djoko Damono? Hmm
pasti jawaban kalian beranekaragam.
Yup, kali ini saya ingin bercerita
tentang kegagalan saya masuk Bahasa dan Sastra Indonesia, jurusan yang sering
kali diremehkan oleh sebagian masyarakat awam. Ini murni pengalaman pribadi
saya. Jika ada yang kurang berkenan, mohon dimaafkan ya!J
Sejak
TK, saya sangat menyukai hal yang berkaitan dengan bahasa Inggris, mulai dari
lagu, film, bahan bacaan tugas, novel, dsb. Itu masih bertahan hingga saya SMA
kelas X. Namun, semuanya berubah 180 derajat. Saat mulai duduk di bangku
tingkat XI SMA, kira-kira bulan Oktober 2016 saya mulai tertarik dengan dunia
kebahasaan dan kesusastraan Indonesia. Seketika ketertarikan saya terhadap
bahasa Inggris yang telah bertahan hampir dua belas tahun lenyap nyaris tak
berbekas.
Sejak
saat itu, saya benar-benar mempelajari serta berusaha memahami dan mendalami
bahasa Indonesia yang sesuai dengan EBI. Kalau boleh jujur, dulu selama masih
menggilai bahasa Inggris, saya sering meremehkan bahasa Indonesia. Dulu saya
merasa kalau penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar tidaklah penting. Jika
mengingat masa itu, ada rasa menyesal yang mendalam di lubuk hati saya.
Saya
bersyukur karena mendapat guru-guru Bahasa Indonesia yang tak hanya sekadar
menyampaikan materi untuk memenuhi tuntutan profesi, tetapi mereka juga sangat
memotivasi dan menginspirasi. Di mata saya, mereka amat luar biasa
mengangumkan. Di awal kelas XII, sempat terbesit di diri saya ingin menjadi
seperti mereka. Yup! Menjadi seorang
guru Bahasa Indonesia dengan mengambil ilmu kependidikan atau setidaknya
menjadi praktisi bahasa Indonesia dengan mengambil ilmu murni.
Kala
itu semua teman kelas saya mendukung. Namun, saya belum bisa memutuskan. Saking
cintanya dengan bahasa Indonesia, sering kali saya refleks mengoreksi
pembicaraan guru atau teman yang terdapat kata tidak baku. Itu di bawah kendali
saya, entah mengapa saya selalu nyeletuk membenarkan
kata yang tidak baku tersebut. Bahkan, di kelas saya dijuluki “KBBI berjalan”, “Bu Guru Bahasa Indonesia”, dan “Master
Bahasa Indonesia” oleh teman-teman saya. Jika ada kesulitan di mata
pelajaran Bahasa Indonesia, teman-teman selalu bertanya pada saya. Mereka menganggap
seolah-olah saya yang paling paham di antara teman kelas yang lain. Namun, saya
hanya manusia biasa yang masih belajar dan tak luput dari kesalahan. Terkadang saya
merasa risi dengan julukan dan anggapan yang berlebihan tersebut.
Singkat
cerita, ternyata saya beruntung karena lolos kuota 50% pendaftar SNMPTN. Saat
itu saya memilih Bahasa dan Sastra Indonesia Undip di pilihan kedua dan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY di pilihan ketiga. Terkesan terbalik
mengurutkan passing grade, tapi
memang itu yang sengaja saya lakukan. Sejak awal, saya sudah yakin kalau tidak
akan lolos. Saya sudah sangat sadar diri karena nilai rapor yang standar dan
tak punya prestasi apapun. Ternyata benar, saya tidak lolos.
Pengumuman
SNMPTN tanggal 17 April malam itu membuat saya merasa menjadi orang yang paling
bodoh dan malang sedunia. Saya harus menerima kado terburuk di H minus beberapa
jam ulang tahun saya. Sedih? Jelas.
Kecewa? Tentu. Masih terekam jelas di pikiran, saya menangis semalaman. Yup, semalaman! Saya merasa telah
mengecewakan orang tua, guru, dan teman-teman saya. Meskipun demikian, saya tak
membiarkan diri jatuh berlarut-larut. Hidup adalah tentang melawan kegagalan.
Tanggal
18 April pagi, perlahan saya mulai bangkit menata diri dan hati. Ucapan selamat
ulang tahun dari keluarga, guru, dan teman pun rasanya belum dapat
mengembalikan kebahagiaan. Terselip pula doa dari teman kelas saya, “Lolos
SBMPTN 2018 bareng ya!”
Itu
yang kadang bisa memunculkan semangat untuk segera bangkit dari keterpurukan.
Saya pun kembali melanjutkan perjuangan dengan mempersiapkan pertarungan yang
sebenarnya, yaitu SBMPTN 2018.
Sekian
curhatan saya kali ini. Kalau nanti ada waktu senggang insyaallah saya
lanjutkan. Terima kasih untuk kalian yang sudah mau membaca sepenggal kisah
sedih sekaligus konyol ini. Semoga ada hikmah yang dapat dipetik. Sampai jumpa
di lain waktu!