Minggu, 16 September 2018

Gagal Menjadi Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia

Hai semuanya? Apa yang kalian pikirkan mengenai jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia? Kalau bicara pasti pakai bahasa baku? Ke mana-mana bawa KBBI? Nemu kata nggak baku dikit langsung dikoreksi? Puitis? Calon sastrawan? Penerus Eyang Sapardi Djoko Damono? Hmm pasti jawaban kalian beranekaragam.

Yup, kali ini saya ingin bercerita tentang kegagalan saya masuk Bahasa dan Sastra Indonesia, jurusan yang sering kali diremehkan oleh sebagian masyarakat awam. Ini murni pengalaman pribadi saya. Jika ada yang kurang berkenan, mohon dimaafkan ya!J

Sejak TK, saya sangat menyukai hal yang berkaitan dengan bahasa Inggris, mulai dari lagu, film, bahan bacaan tugas, novel, dsb. Itu masih bertahan hingga saya SMA kelas X. Namun, semuanya berubah 180 derajat. Saat mulai duduk di bangku tingkat XI SMA, kira-kira bulan Oktober 2016 saya mulai tertarik dengan dunia kebahasaan dan kesusastraan Indonesia. Seketika ketertarikan saya terhadap bahasa Inggris yang telah bertahan hampir dua belas tahun lenyap nyaris tak berbekas.

Sejak saat itu, saya benar-benar mempelajari serta berusaha memahami dan mendalami bahasa Indonesia yang sesuai dengan EBI. Kalau boleh jujur, dulu selama masih menggilai bahasa Inggris, saya sering meremehkan bahasa Indonesia. Dulu saya merasa kalau penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar tidaklah penting. Jika mengingat masa itu, ada rasa menyesal yang mendalam di lubuk hati saya.

Saya bersyukur karena mendapat guru-guru Bahasa Indonesia yang tak hanya sekadar menyampaikan materi untuk memenuhi tuntutan profesi, tetapi mereka juga sangat memotivasi dan menginspirasi. Di mata saya, mereka amat luar biasa mengangumkan. Di awal kelas XII, sempat terbesit di diri saya ingin menjadi seperti mereka. Yup! Menjadi seorang guru Bahasa Indonesia dengan mengambil ilmu kependidikan atau setidaknya menjadi praktisi bahasa Indonesia dengan mengambil ilmu murni.

Kala itu semua teman kelas saya mendukung. Namun, saya belum bisa memutuskan. Saking cintanya dengan bahasa Indonesia, sering kali saya refleks mengoreksi pembicaraan guru atau teman yang terdapat kata tidak baku. Itu di bawah kendali saya, entah mengapa saya selalu nyeletuk membenarkan kata yang tidak baku tersebut. Bahkan, di kelas saya dijuluki “KBBI berjalan”, “Bu Guru Bahasa Indonesia”, dan “Master Bahasa Indonesia” oleh teman-teman saya. Jika ada kesulitan di mata pelajaran Bahasa Indonesia, teman-teman selalu bertanya pada saya. Mereka menganggap seolah-olah saya yang paling paham di antara teman kelas yang lain. Namun, saya hanya manusia biasa yang masih belajar dan tak luput dari kesalahan. Terkadang saya merasa risi dengan julukan dan anggapan yang berlebihan tersebut.

Singkat cerita, ternyata saya beruntung karena lolos kuota 50% pendaftar SNMPTN. Saat itu saya memilih Bahasa dan Sastra Indonesia Undip di pilihan kedua dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY di pilihan ketiga. Terkesan terbalik mengurutkan passing grade, tapi memang itu yang sengaja saya lakukan. Sejak awal, saya sudah yakin kalau tidak akan lolos. Saya sudah sangat sadar diri karena nilai rapor yang standar dan tak punya prestasi apapun. Ternyata benar, saya tidak lolos.

Pengumuman SNMPTN tanggal 17 April malam itu membuat saya merasa menjadi orang yang paling bodoh dan malang sedunia. Saya harus menerima kado terburuk di H minus beberapa jam ulang tahun saya. Sedih? Jelas. Kecewa? Tentu. Masih terekam jelas di pikiran, saya menangis semalaman. Yup, semalaman! Saya merasa telah mengecewakan orang tua, guru, dan teman-teman saya. Meskipun demikian, saya tak membiarkan diri jatuh berlarut-larut. Hidup adalah tentang melawan kegagalan.

Tanggal 18 April pagi, perlahan saya mulai bangkit menata diri dan hati. Ucapan selamat ulang tahun dari keluarga, guru, dan teman pun rasanya belum dapat mengembalikan kebahagiaan. Terselip pula doa dari teman kelas saya, “Lolos SBMPTN 2018 bareng ya!”
Itu yang kadang bisa memunculkan semangat untuk segera bangkit dari keterpurukan. Saya pun kembali melanjutkan perjuangan dengan mempersiapkan pertarungan yang sebenarnya, yaitu SBMPTN 2018.


Sekian curhatan saya kali ini. Kalau nanti ada waktu senggang insyaallah saya lanjutkan. Terima kasih untuk kalian yang sudah mau membaca sepenggal kisah sedih sekaligus konyol ini. Semoga ada hikmah yang dapat dipetik. Sampai jumpa di lain waktu! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Boleh Mengeluh Lelah, Asal Jangan Pernah Menyerah

Hidup memang berat dan tak mudah dijalani. Selalu ada saja ujian, cobaan, rintangan, atau apa pun itu julukannya. Sabar dan ikhlas jelas ...