Jumat, 21 September 2018

Komunikasi yang Kuingini

Hai, nama saya Annisa. Kali ini saya ingin bercerita mengenai perjalanan diri saya hingga akhirnya mantap memilih program studi Ilmu Komunikasi di perguruan tinggi. Sebelumnya saya mau izin nih sesekali menggunakan bahasa yang tidak terlalu formal supaya kita bisa lebih akrab ya, hehe.

Awalnya sejak duduk di bangku TK dan SD, saya amat tertarik dengan mata pelajaran Bahasa Inggris. Terlebih saat masuk SMP, ketertarikan itu makin meningkat. Nilai Bahasa Inggris saya selalu menjadi yang tertinggi kala itu. Namun, semua berubah ketika saya mulai memasuki kelas XI SMA. Saya merasa kurang cocok dengan cara mengajar guru Bahasa Inggris saat itu sehingga saya kurang dapat menyerap tiap materi pelajaran yang dijelaskan.  Dalam waktu yang hampir bersamaan, saya menemukan sisi unik dari mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Dari situ lah muncul ketertarikan mengenai hal yang berkaitan dengan kebahasaan negara kita yang tercinta. Niat saya sejak dulu ingin mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Inggris pun hilang, seketika saya benar-benar berencana pindah haluan. Ya, saya tiba-tiba ingin mengambil Bahasa dan Sastra Indonesia. Kala itu, saya merasa belum memberi kontribusi apapun terhadap pelestarian bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Makanya, saya ingin mengambil program studi tersebut.

Selain bidang bahasa dan sastra, saya juga sangat tertarik mengenai segala hal yang berkaitan dengan jurnalistik dan penyiaran (broadcasting). Di bidang jurnalistik, saya mengidolakan sosok Najwa Shihab. Saat itu saya hanya sekadar tahu tentang jurusan Ilmu Komunikasi secara umum, belum terlalu paham detailnya seperti apa dan bagaimananya.  Hingga suatu masa di akhir kelas XI, keinginan bulat untuk mengambil Bahasa dan Sastra Indonesia pun goyah. Saya mulai ngepoin jurusan Ilmu Komunikasi dan seluk-beluknya.

Saya malah makin bimbang. Di antara dua jurusan itu, saya memang benar-benar suka dan tertarik. Secara prioritas ketertarikan, saya sangat sulit mengurutkannya. Akhirnya saat pendaftaran SNMPTN kelas XII, saya menempatkan Ilmu Komunikasi Undip di pilihan pertama, Bahasa dan Sastra Indonesia Undip di pilihan kedua, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di pilihan ketiga. Memang benar, pilihan ketiga saya bukannya cari aman, malah cenderung makin tidak tahu diri, hahaha.

Tanggal 17 April merupakan hari bersejarah bagi hidup saya. Kali pertama saya mengalami penolakan dalam hal pendidikan. Ya, saya gagal. Sebenarnya, sejak awal pemeringkatan 50% saya sudah sadar diri. Namun, manusia tetaplah manusia. Harapan itu muncul di beberapa minggu menjelang pengumuman lolos. Tanggal 17 April malam kira-kira pukul 21.30, saya baru berani membuka pengumuman. Ternyata merah yang saya dapatkan, tepat beberapa jam sebelum hari ulang tahun saya yang ke-18.

Di SBMPTN, saya tidak kapok menempatkan Ilmu Komunikasi Undip di pilihan pertama. Banyak orang di sekeliling saya yang meremehkan. Saya pun sempat ngedown karena itu, tapi lama-lama kebal juga ternyata, hahaha. Yang saya pikirkan hanya satu, saya harus mengejar impian saya, walau seberat apapun rintangannya, termasuk mendapat cibiran dan nyinyiran orang lain. Di hari pengumuman SBMPTN saya sudah pesimistis dan takut kejadian buruk itu terulang untuk kali kedua. Namun, takdir masih sejalan dengan harapan. Alhamdulillah saya lolos SBMPTN 2018 di pilihan pertama, yaitu Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro. Rasa lelah belajar SBMPTN dan kesedihan gagal SNMPTN pun terbayar lunas, berganti kebahagiaan yang tak terkira.

Pesanku untuk temen-temen, yakinlah pasti akan ada jalan terbaik dari tiap usaha keras yang kalian lakukan. Jadikan nyinyiran yang bertebaran sebagai pemacu semangat memperjuangkan impian dan harapan. Buktikan kepada mereka, kalian pasti bisa meraih hal yang kalian cita-citakan. 





*Tulisan ini disusun untuk memenuhi tugas LKMM-PD Ilmu Komunikasi FISIP Undip 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Boleh Mengeluh Lelah, Asal Jangan Pernah Menyerah

Hidup memang berat dan tak mudah dijalani. Selalu ada saja ujian, cobaan, rintangan, atau apa pun itu julukannya. Sabar dan ikhlas jelas ...