Hai, nama saya Annisa. Kali ini saya ingin bercerita
mengenai perjalanan diri saya hingga akhirnya mantap memilih program studi Ilmu
Komunikasi di perguruan tinggi. Sebelumnya saya mau izin nih sesekali menggunakan
bahasa yang tidak terlalu formal supaya kita bisa lebih akrab ya, hehe.
Awalnya sejak duduk di bangku TK dan SD, saya amat
tertarik dengan mata pelajaran Bahasa Inggris. Terlebih saat masuk SMP,
ketertarikan itu makin meningkat. Nilai Bahasa Inggris saya selalu menjadi yang
tertinggi kala itu. Namun, semua berubah ketika saya mulai memasuki kelas XI
SMA. Saya merasa kurang cocok dengan cara mengajar guru Bahasa Inggris saat itu
sehingga saya kurang dapat menyerap tiap materi pelajaran yang dijelaskan. Dalam waktu yang hampir bersamaan, saya
menemukan sisi unik dari mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Dari situ lah muncul ketertarikan mengenai hal yang
berkaitan dengan kebahasaan negara kita yang tercinta. Niat saya sejak dulu
ingin mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Inggris pun hilang, seketika saya
benar-benar berencana pindah haluan. Ya, saya tiba-tiba ingin mengambil Bahasa
dan Sastra Indonesia. Kala itu, saya merasa belum memberi kontribusi apapun
terhadap pelestarian bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Makanya, saya ingin mengambil program
studi tersebut.
Selain bidang bahasa dan sastra, saya juga sangat
tertarik mengenai segala hal yang berkaitan dengan jurnalistik dan penyiaran (broadcasting). Di bidang jurnalistik,
saya mengidolakan sosok Najwa Shihab. Saat itu saya hanya sekadar tahu tentang jurusan Ilmu
Komunikasi secara umum, belum terlalu paham detailnya seperti apa dan bagaimananya. Hingga suatu masa di akhir kelas XI,
keinginan bulat untuk mengambil Bahasa dan Sastra Indonesia pun goyah. Saya
mulai ngepoin jurusan Ilmu Komunikasi
dan seluk-beluknya.
Saya malah makin bimbang. Di antara dua jurusan itu,
saya memang benar-benar suka dan tertarik. Secara prioritas ketertarikan, saya
sangat sulit mengurutkannya. Akhirnya saat pendaftaran SNMPTN kelas XII, saya
menempatkan Ilmu Komunikasi Undip di pilihan pertama, Bahasa dan Sastra
Indonesia Undip di pilihan kedua, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di
pilihan ketiga. Memang benar, pilihan ketiga saya bukannya cari aman, malah
cenderung makin tidak tahu diri, hahaha.
Tanggal 17 April merupakan hari bersejarah bagi hidup
saya. Kali pertama saya mengalami penolakan dalam hal pendidikan. Ya, saya
gagal. Sebenarnya, sejak awal pemeringkatan 50% saya sudah sadar diri. Namun,
manusia tetaplah manusia. Harapan itu muncul di beberapa minggu menjelang
pengumuman lolos. Tanggal 17 April malam kira-kira pukul 21.30, saya baru
berani membuka pengumuman. Ternyata merah yang saya dapatkan, tepat beberapa
jam sebelum hari ulang tahun saya yang ke-18.
Di SBMPTN, saya tidak kapok menempatkan Ilmu Komunikasi
Undip di pilihan pertama. Banyak orang di sekeliling saya yang meremehkan. Saya
pun sempat ngedown karena itu, tapi
lama-lama kebal juga ternyata, hahaha. Yang saya pikirkan hanya satu, saya
harus mengejar impian saya, walau seberat apapun rintangannya, termasuk
mendapat cibiran dan nyinyiran orang lain. Di hari pengumuman SBMPTN saya sudah
pesimistis dan takut kejadian buruk itu terulang untuk kali kedua. Namun,
takdir masih sejalan dengan harapan. Alhamdulillah saya lolos SBMPTN 2018 di
pilihan pertama, yaitu Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro. Rasa lelah
belajar SBMPTN dan kesedihan gagal SNMPTN pun terbayar lunas, berganti kebahagiaan
yang tak terkira.
*Tulisan ini disusun untuk memenuhi tugas LKMM-PD
Ilmu Komunikasi FISIP Undip 2018.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar